Oktar
|
:
|
Din,
gimana nih perkembangan usaha kopi kita?
|
Randin
|
:
|
Lancar
kok, Per Januari tahun 2020 kan kita tinggal bayar tempat aja, semuanya udah
fix
|
Oktar
|
:
|
Mmmmm
gitu
|
Randin
|
:
|
Emang
kenapa? Kok kamu bimbang gitu?
|
Oktar
|
:
|
Iya
tadi aku mikir di jaman canggih kayak gini kita perlu cara pembayaran yang
cepat, gak bisa ngandalin pembayaran dengan uang tunai atau mesin edc punya
bank aja kan
|
Randin
|
:
|
Owalah,
aku kira kamu musingin apa, terkait masalah sistem pembayaran merchant udah
aku urus semua kok, jadi kedai kopi kita selain pakai pembayaran tunai, mesin
edc, pakai online payment, nah…..…
|
Oktar
|
:
|
Nah
itu, permasalahannya, sistem online payment yang pake barcode atau mesin edc
itu kan gak bisa satu jenis, tapi macam-macam, kan kamu tau aku gak suka
ribet, selain nanti mempersulit penghitungan keuangan kita karena terlalu
banyak sumber pembayaran, gak enak juga di liat di meja kasir, karena emang
rame banget.
|
Randin
|
:
|
Ihhh
kamu mahh, aku kan belum selesai ngomong. Jadi kedai kopi kita ini tetep
mengedepankan online payment, tapi kita pake Qris yaitu QR code Indonesian Standard. Jadi Qris ini bukan
aplikasi atau instrumen pembayaran melainkan sebuah interface, yang mana para
konsumen tetap membayar menggunakan dompet elekronik mereka, baik yang
berbasir server atau mobile banking. Jadi nanti barcode yg kita pake cuma satu
aja. Kalau udah gini semua ke khawatiran kamu gak ada lagi kan? Hehehe
|
Oktar
|
:
|
Wahhh
makasih ya, emang ga salah aku percaya sama kamu (sambil megang tangan
Randin)
|
Randin
|
:
|
(kaget,
dan mukanya memerah)
|
Oktar
|
:
|
Tapi
din, tarif nya gimana hehe………..
|
(Percakapan diatas adalah keadaan fiksi dari permasalahan
yang cukup banyak dialami para pengusaha baik UMKM ataupun merchant yang ada di
Indonesia berkenaan dengan sistem pembayaran online)
Gengs,
saat ini semakin banyak anak muda yang menggemari kopi kekinian. Sensasi
menikmati kopi kekinian ini ternyata dirasa lebih elegan dan menjadi salah satu
gaya hidup anak millenial. Ada beberapa alasan dari segelas kopi yang di beli
di kedai kopi kekinian, diantaranya tempat yang instagramable, koneksi WiFi, ataupun memang berjiwa indie yang semboyannya
sering diplesetkan menjadi “kopi senja,
kopi senja, maag”. Selain itu alasan lain para millenial memilih kopi
kekinian karena harganya yang lowbudget
di banding brand-brand kopi dari luar negeri. Sehingga mereka juga lebih
mencintai produk Indonesia.
Kalau aku sendiri suka banget tempat-tempat kopi yang memang ramah colokan dan WiFi nya kenceng, maklum lagi skripsweetan.
Kalau aku sendiri suka banget tempat-tempat kopi yang memang ramah colokan dan WiFi nya kenceng, maklum lagi skripsweetan.
Gambar 2. Diambil dari idntimes.com
Kalian tau gak?
Tenyata tren kopi kekiniaan ini pun membawa pengaruh besar terhadap konsumsi
perkapita kopi di Indonesia. Seperti yang di jelaskan oleh Pranoto Sunarto
dalam tirto (1), Wakil Ketua Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan
Industri Kopi Indonesia (AEKI) tersebut, mengatakan dulu konsumsi kopi di Indonesia pernah di titik
0,8 kilogram per kapita. “Tahun 2017 meningkat jadi 1,2 kilogram per kapita.
Dan tahun 2018 bisa sampai 1,4 hingga 1,5 kilogram per kapita,”. Tidak
terkecuali Provinsi Lampung, tren kopi kekinian pun semakin gencar digalakan
oleh para pengusaha sejak tahun 2018. Dengan meningkatnya usaha kopi di Lampung
seharusnya dapat meningkatkan pula kesejahteraan petani kopi di Lampung,
mengingat Provinsi Lampung sebagai sentra produksi kopi robusta perkebunan
rakyat terbesar kedua pada tahun 2014 yang mencapai angka produksi sebesar
91.917 ton (2). Waah, harapannya para
pengusaha kopi kekinian di Lampung, bisa bersinergi untuk tetap menggunakan kopi
asli Lampung dalam usahanya yaaa…
Oiya, maraknya kopi kekinian tidak bisa di tampik dari fakta jika kedai kopi
kekinian telah mengedepankan digital payment. Kerjasama
perusahaan FinTech berbasis aplikasi seperti Gojek atau Grab dengan kedai kopi,
menjadi salah satu kerjasama yang sangat menguntungkan, sebab produk dapat mudah di iklankan pada aplikasi
bahkan bisa langsung di pesan.
Dengan
berjamurannya kedai kopi kekinian dan banyak dari mereka yang
mengedepankan digital payment karena lebih praktis, cepat, aman dan pastinya
sering mendapat diskon, maka bisa di bilang mereka adalah salah satu contoh usaha
pendukung digital payment di Indonesia. Biasanya kedai-kedai kopi tersebut
menggunakan digital payment dengan mengandalkan Mesin EDC atau berupa barcode
yang seringkali memenuhi meja kasir.
Kayak gini nih contohnya………
Gambar 3. Youtube Bank Indonesia
Ribet banget kan????
Sebenarnya
selain usaha kedai kopi, masih banyak usaha lain yang sudah tidak lagi berfokus
pada pembayaran tunai atau hanya mengandalkan Mesin EDC sediaan bank. Kedai
kopi hanya salah satu contoh kecil saja, dari ribuan usaha yang ada di
Indonesia yang sudah mengedepankan digital payment.
Nahh,
makanya para pengusaha baik makro maupun mikro harus selalu uptodate terkait perkembangan teknologi pembayaran di Indonesia. Salah satunya adalah digital payment yang
dikenalkan oleh Bank Indonesia dan memfokuskan technology evolution dalam menciptakan masa Fintech 3.0 dan Fintech
3.5 sejak tahun 2010 (3). Harapannya, dengan digital payment ini maka dapat memajukan sistem pembayaran dan menjadi momentum pertumbuhan ekonomi di
Indonesia.
Pada tahun 2025 Bank Indonesia memiliki salah satu visi pembayaran Indonesia (SPI)
2025 yaitu “SPI 2025 menjamin interlink fintech dengan perbankan”. Oleh karena
itulah Bank Indonesia merasa perlu untuk melakukan terobosan dalam memuarakan sistem
pembayaran berbasis online payment atau mobile payment dengan membuat Terobosan
QR Code Indonesian Standard atau QRIS.
Hayoooo ngaku siapa yang baru tau?
Pasti kampusnya gak di datengin BI yaaa hahaha, gapapa biar aku yang kasih tau
aja ya,,,,
Jadi, QRIS ini adalah sistem pembayaran
Indonesia yag dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran
Indonesia (ASPI). Bank Indonesia merasa perlu untuk mendukung inovasi bagi
pengembangan ekonomi dan keuangan digital. Maka dengan QRIS Bank Indonesia
percaya, dapat mendorong efisiensi perekonomian serta mempercepat keuangan
inklusif, dan memajukan UMKM. QRIS diimplementasikan secara nasional mulai
tanggal 1 Januari 2020. QRIS juga memiliki tagline UNGGUL, yaitu Universal (Inklusif
untuk semua seluruh lapisan masyarakat dan bisa di gunakan di luar negeri),
Gampang (hanya dalam satu genggaman smartphone), Untung (Satu kode QR untuk
semua aplikasi maupun mobile banking), serta Langsung (Cepat dan seketika).
Jadi kira-kira gini gengs dalam penggunaan QRIS nantinya
Gambar 4. Youtube Bank Indonesia
Nah,
karena aku penasaran banget sama respon dari pengusaha-pengusaha yang
merchantnya udah pake digital payment, sehabis kuliah aku langsung menuju salah
satu kedai kopi terkenal di lingkungan kampusku.
Sayangnya
aku lupa mau foto bagian depan kedainya, karena setelah parkir aku langsung pesen kopi kesukaan ku, kopi susu pake gula aren, sederhana banget ya hehe?
Enggak, sebenernya ini lagi bokek.
Habis seruput beberapa kali, aku langsung
nanya mba kasir nya kira-kira siapa yang bisa aku ajak ngobrol terkait QRIS
yang nantinya jadi sistem pembayaran berbasis barcode di Indonesia, sayangnya
pemiliknya lagi pulang kampung, dan mba kasirnya sibuk, alhasil aku wawancara
sama supervisor pengadaan barang nya.
Gambar 5. Dokumen Pribadi Saat wawancara dengan Supervisor Pengadaan Barang Kedai Kopi Janji Jiwa Jilid 323, Jalur 2 Universitas Lampung
Dalam wawancara ini, Yohannes mengatakan jika Kedai Kopi Janji Jiwa Jilid 323 baru
menggunakan GoPay dalam sistem pembayarannya, sehingga jika ada konsumen yang
menggunakan server berbeda belum bisa menikmati diskon atau kemudahan lainnya.
Setelah dijelaskan mengenai adanya QRIS sebagai muara digital payment berbasis
barcode di Indonesia, Yohannes sangat antusias karena penyeragaman barcode pada
merchant akan mempermudah para konsumen dalam melakukan transaksi, sehingga income akan lebih banyak.
Waah tanggapannya setuju gengs…..
Setalah dari Kedai Kopi Janji Jiwa aku melaju dengan sepeda
motor milik temanku ke Kedai Kopi Soe di Jalan Z.A. Pagar Alam. Asli, gak kalah
dari Kedai Kopi Janji Jiwa, ini juga instagramable banget, nah aku agak sulit
nih mau wawancara disini, karna Mba kasir dan pegawai lainnya gada yang mau di
wawancara dan mesti ngehubungin pemiliknya, alhasil aku mesti beli segelas kopi
lagi, dan disini aku mesen kopi rum.
Gambar 6. Dokumen Pribadi saat menunggu Konfirmasi wawancara
dengan pemilik Kedai Kopi Soe, di Jl. Z.A. Pagar Alam Bandar Lampung
Setelah nunggu hampir setengah jam, seperti tidak ada
tanda-tanda acc bisa wawancara, akhirnya aku mutusin pergi. Ehhhhh, pas aku
udah sumput-sumputan sama tukang parkir, mba kasirnya sambil buka jendela toko
dadah-dadahin aku, ya aku balik dadahin dia dong hehe. Aku kira dia sungkan sama aku, karena aku mau pergi, taunya dia manggil karena bosnya nelpon. Jadi aku taro
lagi helm bogo gada kaca punya ku, diatas jok yang bagian tengahnya udah belah kayak
palak roti buaya.
Selanjutnya aku ngobrol sama Michelle, pemilik Kedai Kopi
Soe. Wahhh, ramah banget gengs, jadi FYI , Kedai Kopi Soe cukup bervariatif
dalam pilihan pembayaran, karena dia memakai beberapa barcode dari penerbit
yang berbeda. Michelle mengatakan kendala dalam menggunakan barcode yang
berbeda, selama ini mereka cukup mengalami ribetnya dalam penghitungan keuangan
karena setiap server penerbit memiliki sistem perhitungan yang
beda-beda. Jadi Michelle setuju banget dengan adanya QRIS untuk di
implementasikan di Indonesia. Tapi diakhir perbincangan kami membicarakan
mengenai tarif dari QRIS yang ketika on us dan in us adalah 0,7 %. Disitu
Michelle langsung menambahkan statement nya, dia setuju dengan sistem QRIS,
namun kurang setuju dengan tarif pembayarannya.
Dari
beberapa pandangan yang di kemukakan para pengusaha ini, aku yakin Bank Indonesia sudah
memiliki pertimbangan yang matang agar merchant maupun UMKM tetap memilih QRIS sebagai muara digital payment berbasis barcode di Indonesia, baik karena tarif ataupun karena proses administrasi dalam memperoleh Barcode
QRIS yang mudah dan gampang. Selain itu harapannya adalah Bank Indonesia lebih menggencarkan edukasi terkait QRIS
kepada semua kalangan, sehingga pengetahuan mengenai QRIS dapat lebih meluas.
#akucintarupiah
#qris
#qris
#adadisetiapmaknaIndonesia
Sumber:
(1) Baca
selengkapnya di artikel "Kopi Susu Kekinian: Di Antara Dana Besar, Modal
Ventura, dan Tren", https://tirto.id/edu8
(2) http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/167009-[_Konten_]-Konten%20D1892.pdf
hal 15
(3) Bauran
Kebijakan Bank Indonesia Untuk Mendorong Transformasi Ekonomi, Dalam Seminar
Nasional Peringatan HUT Kemenko Ke-53 Dan HUT RI Ke 74, Jakarta 9 agustus 2019







Komentar
Posting Komentar